Visit the Human Wayang Performance at NgestiPandawa.com 

Tips

Tips Jaranan Untuk Calon Dalang

Pergelaran wayang kulit semalam suntuk terbagi menjadi beberapa adegan, diantaranya, Jejer sepisan, Limbukan, Paseban jaba, Jejer Pindho, Perang Gagal, Gara-gara, Pertapan, sanga pindho, Jejer manyura, dan perang brubuh.

Jaranan atau sering juga disebut dengan kapalan, adalah bagian dari adegan  paseban jobo, dimana dalam budhalan prajurit terdapat  prajurit yang numpak jaran /kapal. Maka pada adegan ini disebut dengan “kapalan/Jaranan”.

Jaranan ini merupakan  teknik yang lumayan sulit terutama untuk Dalang pemula, karena memerlukan ketrampilan khusus, dimana kedua tangan Dalang harus memaingkan tiga wayang secara bersamaan. Tangan kanan memegang wayang Kuda dan satu tokoh wayang penunggang kuda dalam posisi menunggang kuda. Sedangkan tangan kiri harus memegang “rampogan” (barisan prajurit) dan kaki tentunya membunyikan keprak sebagai pengatur sekaran dan iringan. Ketiga wayang harus terlihat hidup dan menyatu satu sam lainnya.  Antara gerakan kuda dan gerakan penunggang kida harus terlihat “pilah” karena gerakan kuda beda tentunya dengan gerakan orang. Padahal kedua wayang yang berbeda jenis ini digerakan dengan satu tangan yang sama. Disini diperlukan keahlian dan penguasaan teknik tertentu dari seorang dalang sehingga keduanya nampak hidup. Bila keduannya nampak hidup tetapi kadang Rampogan yang dipegang tangan kiri mati (lupa tidak digerakan), jika kedua tangannya sudah mampu menggerakkan ketiga wayang tetapi kadang kakinya lupa membunyikan keprak, hal ini sering terjadi bagi para dalang pemula.

Beberapa Dalang yang mempunyai teknik jaranan “menjilo” diantara dalang lainnya adalah  Pak Kesdik Kesda Lamono dari Klaten, Almh. Ki Ganda Darsana Sragen, Ki Manteb Sudarsono Karanganyar, dan Ki Bambang Suwarno dosen ISI Surakarta untuk ketegoti ekplorasi jenis sekaran Jaranan.

Untuk menghasilkan sabet jaranan yang bagus, tidak bisa dipungkiri harus memerlukan wayang yang mendukung. Pemilihan wayang menjadi sangat penting, karena tidak sembarang wayang terutama kuda bisa untuk “jaranan” dengan baik. Beberapa tips pemilihan wayang  bisa dilakukan seperti;

Pilih wayang jaran yang ramping

  1. Pilih tokoh wayang yang seimbang dengan jaran
  2. Pilih rampogan yang berbahan kulit tipis.
  3. Lobangi suri Jaran dekat kendali, dan masukan tali tuding wayang tangan depan  wayang penunggang kuda agar tidak mudah lepas.
  4. Gesekan antub jaran dan antub wayang penungang kuda dengan kepalan tangan seperti memeras/untuk memberikan efek  pilah.

Pemilihan wayang jaran (kuda) yang ramping dan berbahan kulit tipis terutama di bagian kepala dan pantat serta ekor, karena akan banyak ekplorasi gerakan kuda dibagian kepala dan ekor. Kuda yang berbahan kulit terlalu tebal tidak akan menghasilkan gerakan yang hidup. Demikian juga sebaiknya pilih wanda jaran Sembrani. Jaran jenis ini biasanya tidak terlalu tinggi, bahkan posisi berdirinya setengah jongkok sehingga sangat pas untuk wayang penunggang kuda dalam posisi seolah-olah duduk.

Pemilihan tokoh wayang yang seimbang dan berkualitas bagus akan mendukung kebutuhan gerak yang diinginkan. Bila adegan budhalan Hastina bisa memakai tokoh Kartamarma atau Aswatama, Bila adegan Dwarawati memakai Setyaki dan seterusnya. Terpenting antara kuda dan wayang penunggang kuda seimbang tidak terlalu “jomplang”.

Pemilihan Rampogan yang berbahan kulit tipis dimaksudkan agar mudah digetarkan oleh Dalang, sehingga akan nampak hidup. Rampogan juga di pilih yang proporsional dengan kuda dan wayang. Rampogan  jangan terlalu kecil  (meski bisa di perbesar melalui efek bayangan) sebab secara kasat mata akan kurang artistic.

Dalam jaranan terdapat beberapa sekaran yang gerakan wayangnya berlainan antara sekaran satu dan lainnya, sehingga kekonsistenan pegangan wayang dibutuhkan, Demikian juga posisi penunggang kuda harus tetap terjaga. Untuk itu diperlukan trik yang tidak bisa dilihat oleh penonton tetapi membantu Dalang untuk tetap menjaga posisi tangan penunggang kuda tidak terlepas dari “kendali” yakni dengan membuat lobang tatahan kecil pada “kendali” ( titik singgung antara suri dan kendali Kuda). Teknik ini saya adopsi dari teknik Ki Manteb Sudarsono Dalang Setan dari Karang Pandan.

Pemilihan gapit jaran dan wayang penunggang kuda pun dalam kasus ini menjadi sangat penting. Pilih gapit yang berbahan dari “sungu” (tanduk kerbau bule).sebab gapit jenis ini licin, sehingga bila beradu, akan memudahkan dalang mencari efek gerak yang diinginkan. (ki Bambang Asmoro).

 

sumber: http://warta.pepadi.com/?p=29

Leave a Reply

Language / Bahasa : English flag German flag French flag Dutch flag Japanese flag Chinese (Simplified) flag

Friends

Merchandise

1 Set Wayang

US$ 400

Blangkon #1

US$ 10

Tips

Pergelaran wayang kulit semalam suntuk terbagi menjadi beberapa adegan, diantaranya, Jejer sepisan, Limbukan, Paseban jaba, Jejer Pindho, Perang Gagal, Gara-gara, Pertapan, sanga pindho, Jejer manyura, dan perang brubuh. Jaranan atau sering juga disebut dengan kapalan, adalah bagian dari adegan  paseban jobo, dimana dalam budhalan prajurit terdapat  prajurit yang numpak jaran /kapal. Maka pada adegan ini disebut dengan. Read more »

Other tips...