Visit the Human Wayang Performance at NgestiPandawa.com 

Knowledge

Mendidik Anak Melalui Wayang Fabel

SEMARANG, Suaramerdeka.com - Alkisah desa Subur Makmur kehidupannya aman sentosa. Tiba- tiba ketenangan itu terusik dengan kedatangan Prabu Singa Barong. Sikapnya yang semena-mena membuat warga desa ketakutan, pun hewan-hewan dalam hutan mencari perlindungan ke desa.

Kancil, tidak bisa tinggal diam. Ia berusaha untuk memutar otak bagaimana menyingkirkan singa edan tersebut. Keadaan semakin menegangkan seperti yang dipentaskan Woro Mustiko Siwi, sang dalang cilik pada Pentas Keliling 3 Kota dalam Fragmen Wayang Purwa di Museum Ronggowarsito, Sabtu (15/9).

Siswi kelas 5 SD Jagalan 81 Surakarta itu mengesankan umur sebayanya yang turut menonton. Dengan penampilannya laiknya dalang dewasa, suaranya yang kecil justru menggelegar memandu wayang kancil yang telah menyabet Penyaji Terbaik Utama dalam Festival Dalang Bocah ke II Tingkat Nasional di TMII Jakarta.

Dengan kecekatannya, ia mengakhiri cerita ketika Kancil berhasil menjebak Prabu Singa Barong tanpa perlu dibunuh seperti yang dikehendaki warga desa. Sang singa jera dalam jembakan, berjanji tidak menakuti dan desa kembali tentram. Sikap bijaksana nan cerdik sang kancil itu menyusup pada cerita fabel dalam wayang.

“Isu cinta lingkungan juga disematkan. Sepertihalnya dunia anak-anak patut diberikan pesan moral dengan dunia dan bahasa anak-anak yang mudah dipahami,” kata Mujiono, Ketua Padepokan Seni Sarotama Surakarta selaku penggagas. Sarotama berkiprah pada bidang karawitan dan Pedalangan anak sejak tahun 1993. Gagasan padepokan ini untuk mengenalkan sedini mungkin kesenian tradisi jawa kepada anak-anak.

“Dengan seni, mampu membentuk karakter anak dan menjadikan kepribadian anak semakin percaya diri,” imbuhnya. Itu tampak dengan penampilan Woro yang penuh percaya diri. Menengok prestasinya, pernah meraih juara 1 lomba Macapat tingkat Semarang hingga Juara 1 dalam festival dalang di UNY Yogyakarta yang disabetnya baru-baru ini.

Putri pasangan Agus Purwo Murdoko dan Retno Muthi Sari ini menurunkan darah seni dari sang nenek buyut, Nyi Kenya Carita yang merupakan dalang perempuan pertama di keraton Solo. Kecintaannya dalam dunia dalang berkat didikan sang nenek, Sri Hadi serta sang ibu yang telah berkutat didunia karawitan. Dengan sederhana, Woro mengutarakan harapannya pada seni pedalangan. “Saya ingin seperti nenek buyut, supaya tradisi ini tetap lestari sampai kapanpun,” ujarnya.

Menurut Staf Pengkajian dan Pelestarian Museum Ranggawarsita, Budi Santosa, pihaknya menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang yang berwenang untuk memberi pengarahan pada sekolahan guna mengapresiasi pementasan yang didukung oleh Yayasan Kelola, Jakarta ini.

“Pelajaran wayang dan karawitan hanya ada di beberapa sekolah. Kehadiran Sanggar Sarotama ini semoga menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah di Semarang untuk memfasilitasi pelestarian budaya di tingkat sekolah dasar,’ katanya.

( Garna Raditya / CN34 / JBSM )

 

sumber: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2012/09/15/130010

Leave a Reply

Language / Bahasa : English flag German flag French flag Dutch flag Japanese flag Chinese (Simplified) flag

Friends

Merchandise

Blangkon #1

US$ 10

1 Set Wayang

US$ 400

Tips

Pergelaran wayang kulit semalam suntuk terbagi menjadi beberapa adegan, diantaranya, Jejer sepisan, Limbukan, Paseban jaba, Jejer Pindho, Perang Gagal, Gara-gara, Pertapan, sanga pindho, Jejer manyura, dan perang brubuh. Jaranan atau sering juga disebut dengan kapalan, adalah bagian dari adegan  paseban jobo, dimana dalam budhalan prajurit terdapat  prajurit yang numpak jaran /kapal. Maka pada adegan ini disebut dengan. Read more »

Other tips...